Rabu, 16 Januari 2013

Forever in Seoul part 1


Udara dingin disini cukup membuatku bergetar. Setiap aku bernafas, hidungku pasti mengeluarkan uap.Tapi tak mengalahkan setiap pemandangan jeju island yang begitu indah di sore hari. Aku melihat banyak sekali wisatawan yang menikmati pulau ini, mereka tampak berpasang-pasangan, tapi tidak denganku. Tanganku mulai kembali dingin, cepat aku usapkan kedua telapak tanganku. Berharap dingin di tanganku mereda tapi nyatanya tidak berhasil, aku malah semakin dingin. Aku terkejut ketika seseorang memegang tanganku, sentuhannya langsung menghangatkan seluruh tubuhku. Aku menoleh sesaat kearahnya, Astaga!
"Kim bum oppa?" Aku begitu terpana oleh ketampanannya, melihat dia tersenyum dengkulku semakin lemas. Senyumnya yang perlahan melebar itu, kini merubah bentuk wajahnya menjadi seseorang yang aku kenal.
"Hah?! Miaoow?!"
Loh? Kenapa aku mengeluarkan suara kucing? Pikirku. Aku berusaha menyebut nama lelaki yang ku kenal. Tapi tetap saja, "miaooww?!" Ada apa denganku?
Tiba-tiba awan hitam muncul dihadapanku, membuat pengeliatanku buram, tapi suara 'miaoow' terus terngiang di kepalaku, kini aku tidak bisa melihat kim bum oppa yang sudah bertransformasi menjadi seseorang yang ku suka sejak lama.
"Miaooww... Miaooww" suaranya semakin terdengar nyata di telingaku. Aku terbangun dengan perasaan menyesal, ternyata aku mimpi, andai aku bisa lebih lama bersama dengan laki-laki itu.
"Miaooww"
Pagi ini aku terbangun oleh kucingku popo, dia memang selalu mengeong membangunkanku. Ada baiknya juga, tidak perlu membeli alarm. Popo adalah kucing kampung yang sengaja kupelihara ketika aku melihat dia mengeong kelaparan di depan kamar kos ku. Awalnya dia hanya kusuruh tidur diluar, tapi karena tiap malam dia selalu menggaruk pintu kamarku dan membuat pintu yg hanya berlapiskan triplek itu mengelupas di bagian bawahnya. Hal itu membuat ibu kos menegurku. Akhirnya tiap malam popo selalu tidur dikamarku.
Aku jane, mahasiswa jurusan sastra inggris yang juga merangkap sebagai karyawan yang sedang stress menghadapi masa pemindahan jabatan (ini terlalu berlebihan). Kantorku bergerak dibidang properti, yang menjual beberapa apartment dan perumahan yang ada di pusat kota. Aku hanyalah seorang receptionis di kantor pemasaran itu, desas desusnya aku akan dipindahkan menjadi bagian sales promotor. Aku yang seharusnya tinggal bersama orangtuaku yang berada di cinere, terpaksa pindah ke pusat kota yang dekat dengan kantor dan juga kampusku.
Menikmati hidup adalah satu-satunya pilihan hidupku. Jika tidak, mungkin aku sudah berada di rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak? Aku wanita yang berusia 22 tahun harus membiayai kebutuhanku, dan orangtuaku disana yang sedang merintis usaha. Masalah penghasilankalo kata orang tua 'kalo ga dicukup-cukupin mah ga cukup'. Jadi tiap bulan aku harus selalu mengingatkan diriku untuk 'cukup-cukupin'.
Jangan membicarakan soal cinta di hadapanku sekarang. Aku tidak munafik, aku juga membutuhkan lelaki. Sebetulnya Aku masih trauma, dengan laki-laki yang sempat menjadi calon suamiku. Walaupun setengah dari teman-temanku sudah menikah, aku tidak akan euforia dan ingin buru-buru menikah. Aku harus membereskan karirku, membeli rumah yg lebih besar untuk keluargaku, dan mewujutkan impian orangtuaku untuk berangkat haji.

Pagi ini aku sudah siap berangkat ke kantor, aku sedang memanaskan mesin motorku di garasi kos saat Ria memanggilku dari jendela kamarnya.
"Jane, handuk ngapain lo bawa ke kantor?"
"Hah?!" Aku melongo melihat pundak kirikutempat biasa aku menaruh tas selempangku. Bodohnya diriku bisa salah mengambil tas, malah handuk. Aku kembali ke kamar dan benar siap berangkat kerja kali ini.
Kulihat kantor masih sepi, sepertinya aku terlalu pagi. Kulirik jam tangan yg kukenakan. Tepat menunjukkan angka 9. Loh?! Ada apa ini? Kenapa belum ada yang datang? Aku menaruh tas selempangku di laci bawah meja receptionist. Ada beberapa catatan kecil post it di kalendar mejaku. Tiba-tiba aku merasa bodoh untuk yang kedua kalinya pagi ini. Bagaimana aku bisa lupa, bahwa hari ini semestinya libur?! Ya ampun jane.. Ada apa dengan ingatanmu? Hari ini para manager dan staf senior akan rapat dengan direksi di puncak. Dan kantor diliburkan.
Aku kembali ke motor kesayanganku, sambil memaki diriku bodoh. Pak Toto satpam yang menjaga kantor sampai bingung melihatku masuk dihari libur. Aku sudah tidak mood untuk balik ke kosan. Mungkin aku akan pergi ke tempat makan waralaba yang dekat dari kantor, mengingat perutku sangat keroncongan dan merindukan beberapa bulir nasi yang bisa kumasukkan ke perut. Karena sudah 3 hari ini aku hanya makan mie instan dan roti. Memang inilah nasib anak kos. Ckckck
Aku membayar 1 nasi dan ayam goreng, dan 1 medium hot chocolate. Kupilih meja paling pojok, agar tidak terlalu mencolok bila ditengah-tengah. Aku melahap nasi dan ayamku dengan ganas, aku benar-benar lapar. Saat aku selesai makan, aku terpana oleh mobil yang baru saja di parkir di depanku. Mobil impianku, BMW seri 5. Aku sedikit melongo melihat kilauan cat putih mengkilat di seluruh bagian mobil ini. Pasti orang kaya, pikirku. Platnya saja sudah pasti pesan. B 4 RIO. Aku bergidik ketika melihat plat nya. Entah kenapa aku menjadi gelisah, usai melihat mobil itu. Ku tenggak minumanku, berharap kegelisahanku menghilang.
Aku tersedak hebat ketika aku melihat sang pengemudi BMW impianku itu keluar dari mobilnya. Ternyata ini maksud dari si kegelisahan tadi. Seorang lelaki yang kukenal sejak SMA, menjadi partner kerja di tempat lamaku dan menjadi mantan gebetanku. Dari dulu aku suka padanya, tapi karena ada seseoran yang mengatakan akan menikahiku, aku jadi melupakan dia, sampai akhirnya orang yang berjanji menikahiku itu selingkuh. Yah itulah tragedi di hidupku. Sekarang jantungku mulai berdebar hebat. Aku melihat dari sudut mataku, lelaki itu berjalan ke arahku. Astaga, bagaimana ini? Apa rambutku rapi? Apa eyelinerku berantakan? Lalu apa kalimat yang akan aku katakan padanya saat dia menyapaku?
Aku meluruskan pandangan mataku, dan melihat lelaki itu ternyata bukan berjalan menuju mejaku, tapi menuju pintu masuk yg ada di samping mejaku. Tiga kali kebodohan yang kubuat, aku sudah terlalu GeEr berharap Rio akan menghampiriku, dan menyapaku. Sepertinya dia sudah lupa dengan ku. Biarlah, mungkin dia sudah melupakanku juga. Karena terakhir kali, aku sempat membuat dia kesal karena kebodohanku.
Ini penyakit lamaku, setiap aku minum hot chocolate aku pasti beser.Aku menunggu di depan pintu toilet gabungan pria dan wanita, menunggu giliran. Kenapa toko ini hanya menyediakan 1 toliet saja sih?!Aku sudah tidak tahan.
Cklek!
Pintu tolet terbuka, Yes! Akhirnya giliranku. Tapi aku tersentak ketika yang keluar adalah seorang pria, bukan prianya yang membuat aku tersentak. Tapi dia Rio, ya ampun dia menatapku.
"Jane?!" Serunya dihadapanku
"Ya ampun kamu kemana aja?"
"Eh rio, aku udah pindah. hm.. Aku bisa masuk dulu.. Aku ga tahan.." Aku langsung berlari kecil melewatinya. Rio begitu wangi, wangi yang sama saat aku mengenalnya.
Di dalam toilet, setelah aku merasa lega. Aku mengambil cermin yang ada dalam tas ku, kulihat wajahku tidak terlalu buruk saat ini, bahkan untuk bertemu lagi dengan Rio. aku keluar dari toilet, dan terkejut melihat ternyata Rio masih menungguku di luar pintu toilet.
“loh? Kok masih disini?”
“nunggu kamu” jawabnya sambil tersenyum, senyum yang sama persis dua tahun lalu sebelum aku pergi meninggalkannya. Rio mengajakku keluar bersama, kami duduk di pojok tempat aku tadi.
“kamu kerja dimana sekarang?”
“Mitra Resident, kamu masih di Royale club?”
“masih, kenapa ga bilang sama aku kalo kamu pindah?”
“kamu kan lagi keluar kota waktu aku pindah”
“kan ada handphone?”
“hp aku dijual, dan ga inget nomer kamu.” Jawabku bohong, padahal aku ingat persis nomernya. Bahkan nomer baju, sepatu dan celananya. Maklum, setiap dia ulang tahun aku memberinya sepatu, atau baju.
“trus sekarang ga megang hp?”
Aku berkernyit “pegang lah, se gak mampukah aku sampe ga bisa beli hp”
“maaf deh..gimana kamu sama Eri?” nah inilah pertanyaan yang selalu aku hindari, Rio sam sekali ga tahu kalau hubungan aku dengan Eri sudah lama berakhir.
“putus” jawabku acuh
“kok bisa? Kalian mau nikah kan?”
“selingkuh”
“kamu selingkuh?”
Aku memutar bola mataku, bagaimana bisa Rio berpikir aku yang selingkuh?
“Eri” jawabku masih tak acuh
“oh… aku kira. Sabar ya…” aku tau pasti itu yang keluar dari mulutnya.
“sabar itu nama tengahku” jawabku asal, membuat Rio tertawa. Tertawa saja dia terlihat begitu tampan.
“gimana pacarmu?”
“aku??” jawabnya menyakinkan pertanyaanku. Karena yang ku tau dua tahun lalu dia tidak punya pacar, ya siapa tau seteah lama tak bertemu dia sudah mempunyai kekasih. Aku mengagguk dan menanti jawabannya.
“ngga ada, mungkin belum ketemu kali”
“ya yang penting kamu beruntung. Belum ketemu pacar, tapi udah punya mobil baru”
“haha, bisa aja kamu. Kamu ga kerja? Bolos ya?”
“libur, lebih tepatnya aku lupa kalo hari ini kantor aku libur. Makanya aku kabur kesini” lagi lagi Rio tertawa. Entah kenapa melihatnya tertawa membuat jantungku berdebar. Kami melanjutkan obrolan kami, sampai tak terasa kami sudah mengobrol selama 1 jam. Rio hari ini juga libur, karena kemarin dia dinas selama seminggu. Dan kantornya mengizinkan dia libur selama dua hari.
Memang hari ini adalah hari bodoh dan hari keberuntunganku. Baru kali ini mimpiku langsung jadi nyata kurang dari 24 jam. Yaah, walaupun aku tidak bertemu dan memegang tangannya di jeju, tapi ini saja sudah membuatku begitu bahagia. Aku bisa bertemu dengan Rio lagi, setelah dua tahun tidak bertemu. Saat kami sedang asik mengobrol, rio mengangkat teleponnya entah dari siapa di berbicara karena dia berbicara menjauhiku. Aku benar-benar merindukan Rio, andai aku bisa begitu berani mengungkapkan perasaanku padanya saat ini. Tapi aku tidak bisa, mengingat aku tidak pernah tahu apa isi hati rio sebenarnya padaku.  Kulihat rio kembali berjalan kearah meja kami, dia sudah selesai menelpon. kulihat mukanya begitu sumringah ketika duduk di hadapanku.
“seneng banget kayaknya? Pasti dari cewek kamu”
“masa? Hahaha” wajahnya agak memerah. “tapi kan aku udah bilang, kalo aku yang punya pacar”
“yee, emang aku bilng pacar, kan aku bilang cewek kamu. Bisa berarti itu gebetan kamu, atau orang yang kamu suka”
“wah telepatimu bagus juga ya… kamu tahu Olivia?” nafasku sedikit tercekat, ternyata benar itu dari wanita yang Rio sukai. Aku menganasilisis setiap nama yang aku kenal, Olivia yang begitu familiar di pikiranku dia adalah manager royale club saat aku masih kerja disana. Jadi Rio menyukai dia? Olivia memang cantik, bagaikan ratu di kantor ku yang dahulu. Ingatanku tentang dia kurang baik, karena sebagai manager dia tidak begitu menjaga profesionalitas dengan baik. Ditambah aku pernah dilabrak olehnya saat aku berhubungan dengan Eri, memang saat itu Olivia juga menyukai Eri. Tapi sekarang kenapa dia mendekati Rio, dan bisa-bisanya Rio menyukainya. Aku mengangguk pelan saat Rio bertanya padaku.
“menurutmu apa aku cocok dengan dia?” miris rasanya mendengar dia bertanya padaku.
“hmm… pengen banget dikasih tau?” lagi-lagi rio tertawa
“haha, aku serius kali ini. Menurutmu gimana?”
“cocok, secara kamu tampan, dan dia cantik” jawabku datar dengan sedikit senyuman palsu. Saat dia mendengar pendapatku terlihat dia begitu sangat senang, tapi ada ketidakpuasan yang terpancar dari matanya.
“kenapa?” tanyaku
“tapi, aku bingung gimana cara ngomongnya ke dia.”
“ngomong apa?”
“aku pengen dia jadi pacarku.” Hatiku mencelos saat mendengar jawaban Rio.
“ya gampang kamu tinggal ngomong aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku?” andai aku bisa seberani ini mengeluarkan kalimat yang mestinya aku katakan pada rio.
“yah, kamu ngomong gampang. Tapi melakukannya itu susah jane..” aku tahu persis apa yang dirasakan Rio, karena memang saat ini aku juga merasakan hal yang sama.
“haha, biarkan mengalir aja saat kamu mau ngomong sama dia. Jangan terlalu dipaksakan, atau menggebu-gebu.”
“wah, kamu emangcocok jadi consultant cinta. Haha”
“apa sihh…” aku berkernyit mendengar pernyataanya, “gimana ceritanya kamu bisa suka sama dia?”
“love first sight”
“cih…” aku membohongi diriku, padahal itulah kenapa aku bisa suka dengannya.
“hahahaha, emang kamu ga percaya?”
“ngga” aku berbohong
“kamu harus coba, rasanya itu berbunga-bunga” kulihat wajahnya memang tampak berbunga-bunga.
“Rasa Mangga aku mau..” Rio kembali tertawa setiap aku asal menjawab apa yang dia katakan.
 Pupus rasanya melihat dia begitu senang dengan Olivia. Tapi apa dia tidak merasa bahwa dahulu aku juga memperhatikannya, selalu peduli saat dia ada masalah, saat kami saling bertukar pendapat, saat aku memberi surprise saat dia ulang tahun. Apa Rio tidak bisa melihatnya dari sudut mataku, bahwa aku juga menyukainya? Obrolan kami berakhir saat akhirnya aku menyarankan Rio untuk memberikan Surprise pada Olivia, sama seperti apa yang aku lakukan padanya dahulu. Rio langsung bergegas ke toko kue coklat, dan berpamitan denganku, meninggalkanku sendiri yang sedang gundah karena aku sangat merindukannya tapi juga sakit mendengar dia menyukai wanita lain.

Malam ini suara popo melengking saat aku mengerjakan esai dari salah satu novel kate brian. Dia terus mengeluskan kepalanya pada pahaku, ciri-ciri dia sudah begitu lapar. Tapi tugasku harus selesai malam ini karena harus aku kirim lewat email ke dosen ku. Tapi popo tampaknya tidak menyerah, kini dia berada di pahaku dengan matanya yang memelas memandangku.
“arhhh… jangan keluarkan mata memelasmu ituu.” Karena aku tidak tahan melihat matanya yang tampak begitu memelas, akhirnya kuputuskan untuk memberinya dia makanan. Saat dia lahap memakan makanannya, aku menlanjutkan tugas esaiku ini. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamarku, sebelum aku membalasnya orang itu sudah masuk ke kamarku. Aku hanya mendengar pintu kamarku terbuka tanpa melihat kearahnya karena aku masih focus mengerjakan tugasku, feelingku sudah pasti Vita, sahabatku. Aku mengenalnya saat aku masih di kantorku yang lama, dan kami juga masuk kuliah dengan jurusan yang sama.
“janeee… mau martabak ga?” kulirik dia dari sudut mataku, dia mengeluarkan sebungkus plastic yang tercium aroma martabak manis. Fokusku buyar, saat merasakan perutku bergejolak hebat mencium aroma martabak yang di bawa Vita. Dari pada aku tambah tidak focus, kupoutuskan untuk istirahat sejenak, dan memakan martabak yang di bawanya.
“lo tau aja kalo gue lagi laper..” kataku saat mengambil martabak coklat kacang kesukaanku.
“oh iya doong, gue tau lo lagi kere tanggal-tanggal segini. Makanya gue bawain makannan.”
“eh, sial lu”
"Poster nambah lagi tuh satu, siapa?" Vita menunjuk poster kim hyunjoong. Aku memang penggemar korean artis, tapi tidak semuanya aku suka. Favorite ku adalah kim bum, di setiap sisi kamarku sudah ada 7 poster kim bum yang bertengger di dinding kamarku. Sisanya beberapa artis yang aku suka salah satunya kim hyun joong.
"Hyun joong oppa"
"Emang ye, teman gue yang paling alay tuh elo doang."
"Alay darimana? Itu namanya ngefans!"
"Iya, tapi kampungan"
"Heh, lebih kampung band yang semua personilnya polem-polem itu ya! K-pop artis mah sudah internasional. Lu nya aja yang udik!"
"Hahaha, bodo! Gue mah ga suka, muka-mukanya kayak homo"
"Yeh itu imut tau!"
"Wuek" kini Vita duduk di hadapan laptopku, memperhatikan layarnya dengan seksama sebelum akhirnya dia bertanya.
“esai dari siapa nih?”
“pak robi” jawabku dengan mulut penuh dengan marbak, vita membelalak saat melihatku dalam kondisi ini.
“ehh, lu belom makan seminggu ye?”
“hahaha…Eh lo tau ga? dua hari yang lalu gue abis ketemu seseorang.”
“pasti Eri” jawabnya acuh dan kembali melihat kelayar.
“bukan, gue ketemu Rio”
“hah?!” kini dia sepenuhnya memutarkan tubuh kearahku. “kok bisa?! Dimana?!”
“hahaha, di tempat biasa kita nongkrong.”
“trus dia gimana? Ganteng ga?”
“lebih ganteng, kayak kim bum oppa. apalagi dia sekarang beli mobil baru BMW seri 5”
“serious?! Beruntung banget lo. Seneng dong lo ketemu dia?”
“seneng sih, tapi gue juga sakit hati tau! Dia suka sama Olivia."
"Idih, seleranya minim amat sih"
"Yeeh, oliv tuh cantik. Wajar kalo rio suka sama dia"
"Tapi masih cantikkan elo jane! Lo harus pede dong, lo tuh ga kalah cantik sama oliv. Udah sana rebut hati rio."
"Lo ngomong enak, lo ga tau jantung gue mau copot setiap gue liat senyumnya dia"
"Hahaha, labay!"
"Yeh,kayak lo ga lebay aja tiap ketemu mantan lo si yusuf" kulihat vita tersentak saat aku menyebut nama mantannya. "Makanya move on dong"
"Janee!!!" Vita langsung menyerangku dengan bantal yang ada di sebelahnya, membuat aku dan dia perang sejenak. Yusuf itu mantan yang begitu dia cintai, sampai-sampai dia ga rela hubungan mereka berakhir, makanya dia tetap mempertahankan perasaan cintanya. Kami sudah ngos-ngosan selesai perang bantal,
"Lo juga ga move on dari rio! Jangan muna deh!"
"Haha, kan rio bukan mantan gue"
"Tetep aja itu masuk itungan! Kayak ga ada cowok lain aja?!"
"Yauda, gue move on deh dari rio. Tapi gue sama yusuf yee? Hahahaha" jawabku iseng
"JANE!!!" Dan perang pun berlanjut lagi...

Sore ini aku pulang kantor dengan muka bersungut. Aku mendapat pesan dari temanku, bahwa hari ini yang semestinya libur kuliah jadi masuk karena dosen yang menyebalkan itu akan memberikan kuis. Aku berjalan kearah motor kesayanganku, sambil melintasi jembatan kayu yang menghubungkan kantor dengan parkiran. Sore ini tampak mendung, sepertinya akan hujan. Aku menyalakan motorku dan tersentak saat kedua tangan dari arah belakang menutupi mataku. Dan saat aku memutar badanku, jantungku seperti benar-benar tak pada tempatnya.
"Eri?!" Ada perasaan kesal, kaget, tapi tidak untuk rindu padanya, rasaku sudah benar-benar mati untuknya.
"Haii, apa kabar?" Katanya sambil tersenyum
"Ngapain kamu disini?!" Jawabku ketus
"Pengen ketemu kamu, ada yang pengen aku omongin"
"Kenapa aku? Emang udah ga ada orang lain yang mau dengerin kamu ngomong?"
"Iya, memang ga ada lagi yang bisa mendengakanku lebih baik selain kamu"
"Cih..."
"Aku serius"
"Sayangnya Aku harus buru-buru. Ada kuliah 2 jam lagi"
"Sebentar aja. Aku mau cerita. Pleasee.."
Aku menghela nafas panjangku, "yaudah sebentar" aku mengajaknya duduk di bangku taman kantorku. Dia mulai menceritakan kenapa di bisa disini.
"Aku kangen sama kamu"
"Ga usah basa-basi, kenapa?"
"Okee, aku nyesel mutusin kamu." Aku bergeming sama sekali tidak merespon perkataannya.
"Aku juga nyesel, lebih milih gita dibanding kamu saat itu"
"Kenapa? Kan kamu cinta mati sama dia? Trus kamu katanya mau nikah sama dia."
"Ternyata gita udah punya anak.." Jawabnya sambil menunduk. Aku sendiri agak terkejut mendengarnya.
"Kalian kan sudah 2 tahun berhubungan, kok ga tau dia punya anak? Trus kamu tau dari mana dia punya anak?"
"Dua tahun ini memang aku berhubungan tapi aku ga pernah di ijinin untuk datang kerumahnya. Kemarin aku nekat kerumahnya, karena ada satu masalah yang pengen kami selesaikan. Tapi ketika aku berhenti di samping rumahnya aku lihat ada anak kecil sekitar umur 5 tahun sedang dia gendong."
"Mungkin aja itu ponakannya" jawabku datar
"Ngga, aku nanya langsung sama anak itu. Waktu dia jajan di warung dekat rumahnya, aku nanya apa dia ponakannya gita? Dia jawab kalo gita itu ibunya."
"Bukannya bagus?"
"Apanya yang bagus? Dia udah bohong sama aku"
"Loh? Kamu kan mau calon istri yang keibuan. Aku rasa gita sudah memenuhi syaratmu. Dia bukan hanya keibuan. Tapi dia benar-benar seorang ibu"
"Tapi dia ngehianatin aku.."
"Kamu juga" jawabanku membuat Eri bergeming, aku mendengar helaan nafasnya, dan kini dia menatapku nanar.
"Maafin aku.." Jawabnya dengan satu air mata yang mengarir di pipi kanannya. Aku mencoba setegar mungkin berhadapan dengannya saat situasi seperti ini. Tidak akan aku membiarkan air mata buayanya meluluhlantahkan hatiku kembali.
"Tenang aja, aku udah maafin kamu dua tahun yang lalu"
"Aku tahu, ini mungkin karma untuk aku"
"Itu kamu tahu"
"Makanya aku bener-bener nyesel melepas kamu, aku baru sadar bahwa kamu yang terbaik buat aku, please jane beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi"
"Apa? Kesempatan apa? Lebih baik kamu ngomong sama gita baik-baik dan memperbaiki hubungan kamu dengannya. Dari pada buang-buang waktu kamu seperti ini, kamu ga punya kesempatan apapun dalam hidupku lagi." Kini aku berjalan meninggalkan Eri yang masih terpaku. Jangan harap aku akan memberimu satu kesempatan. Cukup kau menghacurkan hidupku selama setahun, membuatku ngelangsa dan aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku juga sadar bahwa hatiku hanya bisa terisi untuk Rio seorang, walupun aku harus menerima kenyataan yang tak sejalan.

Sudah dua minggu lebih sejak aku bertemu Rio, tapi kami belum bertemu lagi, mungkin dia sedang sibuk. Kami hanya saling sms, itu juga hanya 2x. Aku benar-benar merindukan rio saat ini. Malam minggu kali ini hujan,aku menatap keluar jendela kamar berharap andai Rio datang dan mengajakku keluar untuk sekedar jalan. Lamunanku terbuyar saat aku mendengar dering handphoneku. Aku mengambil nya dari tasku, dan langsung aku angkat tanpa melihat kelayarnya.
"Halo jane? Apa kabar?" Jantungku berdebar saat mendengar suaranya. Kulihat layar hp ku sekilas, dan kudapati di layar nama Rio.
"Eh..haii.. Baik. Kamu gimana?"
"Baik, eh kamu malam ini sibuk ga?"
"Ngga, mana ada orang yang malem minggu sibuk" aku mendengarnya tertawa di sebrang sana.
"Aku lagi di cafe bastile, kamu bisa kesini ga? Ada yang mau aku omongin." Nafasku tercekat ketika mendengar kata-kata rio.
"Oh iya bisa kok" jawabku cepat
"Yaudah aku tunggu ya..bye" aku begitu senang sampai aku loncat kegirangan membuat popo marah karena buntutnya terikjak olehku. Akhirnya Rio mengajakku ketemuan, aku langsung bergegas menuju lemari, mencari pakaian yang tampak feminim dengan stelan jeans. Aku pilih semi coat berwarna coklat muda se atas dengkulku.
Hujan sudah tampak reda, saat aku ingin beranjak ke tempat tujuan. Motorku sudah kunyalakan, aku sengaja tidak memakai jas hujan karena ini hanya rintik-rintik kecil.
Aku sudah sampai di cafe, aku memasukki cafe dan  langsung tercium aroma expresso. Aku melihat di setiap tempat duduk di cafe ini. Dan aku melihat seorang pria melambai kearahku, dia begitu sangat tampan dengan polo shirtnya. Aku menghampirinya, berjalan perlahan sambil memberbaiki rambut ku. Cafe ini tampak begitu romantis, karena di temani musik musik beraliran jazz. Kini aku duduk di hadapan Rio, jantungku berdetak mulai tak karuan saat melihatnya tersenyum.
"Kamu hujan-hujanan?"
"Sedikit, cuma gerimis tadi"
"Kenapa ga pakai jas hujan? nanti kamu sakit" hatiku tiba-tiba luluh saat rio peduli denganku. Rio lengsung menawakanku makan dan minum, aku memilih 'four season steak' dan hot chocolate. Kami saling mengobrol sampai makanan kami diantar. Dia meminta maaf padaku saat dia tidak bisa menghubungiku, aku maklumi karena dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Kami sudah selesai makan saat Rio berterima kasih padaku.
"Terimakasih untuk apa?" Tanyaku kembali
"Berkat saran kamu, usahaku jadi lancar" kulihat seyumnya mengembang di wajahnya, membuat dengkulku lemas setengah mati.
"Usaha? Kamu lagi buat usaha memangnya?"
"Haha bukan jane, usahaku ngomong sama olivia."
DEG!
Jantungku seakan berhenti berdetak, aku pikir dia mengajakku kesini untuk diriku. Tapi untuk membicarakan olivia, aku berusaha memunculkan wajah poker face ku sebisa mungkin di hadapannya. Berharap dia tidak akan menemukan wajah cemburuku padanya.
"Waw, bagus doong.. Trus gimana? Kalian pacaran dong?"
"Aku ga pacaran sama dia, aku mau tunangan sama oliv" aku pastikan hatiku saat ini benar-benar hancur. Pikiranku kosong, aku tidak dapat mendengar dengan jelas saat rio kembali bercerita tentang rencana pertunangan mereka. Aku tersadar saat rio memberiku satu amplop undangan. Kulihat disitu tertulis Rio dan Olivia, rasanya aku ingin menangis. Tapi akan menjadi bodoh jika ketahuan Rio saat ini.
"Ini undangan buat kamu, besok kamu datang ya." Aku masih terdiam, mengatur detak jantungku agar kembali normal, dan berharap nafasku yang mulai sesak ini mereda.
"Iya, insya Allah aku datang" jawabku sambil tersenyum.
Malam ini begitu memilukan bagiku. Aku tidak memperpanjang pembicaraan kami saat Rio bercerita mengungkapkan kebahagiaannya kepadaku. Aku berpamitan dengannya, dengan alasan sahabatku mengajak aku pergi. Aku meninggalkan Rio yang masih tersenyum dan berterimakasih padaku saat aku sudah membelakanginya. Aku berlari kecil menuju parkiran, aku pikir hujan sudah berhenti ternyata hujan kembali deras. Bodohnya aku tidak membawa jas hujan di jok motorku. Aku tetap melajukan motorku, sengaja kubiarkan diriku basah di guyur hujan, kulewati hawa dingin yang menusuk kulitku dan kurelakan air mataku jatuh bersamaan dengan derasnya air hujan.
Aku sudah menggigil ketika sampai di tempat kosku. Aku berjalan menaiki tangga, menuju kamarku yang berada dilantai dua. Ku dapati vita sedang menunggu ku di bangku depan kamarku, sambil bermain dengan popo. Dia terkejut melihatku basah kuyup, entah dia juga terkejut apa tidak melihat airmataku mengalir di wajahku.
"Lo kenapa jane?" Vita melongo ke wajahku yang basah karena hujan dan air mata. "Lo nangis kenapa jane?" Tangisanku tambah kuat saat vita bertanya padaku, membuat badanku gemetar dan tambah menggigil sampai aku merasakan paru-paruku kehabisan udara, asma ku kumat. Aku merasakan diriku terjatuh ke pintu kamarku. Vita yang panik langsung mengambil benda yang yang semestinya aku butuhkan. Tapi dia tidak menemukannya di tas ku. Mataku buram, aku hanya melihat sekelompok cahaya kecil berpendar di depanku dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku saat cahaya itu menghilang di kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar