Udara dingin disini cukup
membuatku bergetar. Setiap aku bernafas, hidungku pasti mengeluarkan uap.Tapi
tak mengalahkan setiap pemandangan jeju island yang begitu indah di sore hari.
Aku melihat banyak sekali wisatawan yang menikmati pulau ini, mereka tampak
berpasang-pasangan, tapi tidak denganku. Tanganku mulai kembali dingin, cepat
aku usapkan kedua telapak tanganku. Berharap dingin di tanganku mereda tapi
nyatanya tidak berhasil, aku malah semakin dingin. Aku terkejut ketika
seseorang memegang tanganku, sentuhannya langsung menghangatkan seluruh tubuhku.
Aku menoleh sesaat kearahnya, Astaga!
"Kim bum oppa?" Aku
begitu terpana oleh ketampanannya, melihat dia tersenyum dengkulku semakin
lemas. Senyumnya yang perlahan melebar itu, kini merubah bentuk wajahnya
menjadi seseorang yang aku kenal.
"Hah?! Miaoow?!"
Loh? Kenapa aku mengeluarkan
suara kucing? Pikirku. Aku berusaha menyebut nama lelaki yang ku kenal. Tapi
tetap saja, "miaooww?!" Ada apa denganku?
Tiba-tiba awan hitam muncul
dihadapanku, membuat pengeliatanku buram, tapi suara 'miaoow' terus terngiang
di kepalaku, kini aku tidak bisa melihat kim bum oppa yang sudah
bertransformasi menjadi seseorang yang ku suka sejak lama.
"Miaooww... Miaooww"
suaranya semakin terdengar nyata di telingaku. Aku terbangun dengan perasaan
menyesal, ternyata aku mimpi, andai aku bisa lebih lama bersama dengan
laki-laki itu.
"Miaooww"
Pagi ini aku terbangun oleh
kucingku popo, dia memang selalu mengeong membangunkanku. Ada baiknya juga,
tidak perlu membeli alarm. Popo adalah kucing kampung yang sengaja kupelihara
ketika aku melihat dia mengeong kelaparan di depan kamar kos ku. Awalnya dia
hanya kusuruh tidur diluar, tapi karena tiap malam dia selalu menggaruk pintu
kamarku dan membuat pintu yg hanya berlapiskan triplek itu mengelupas di bagian
bawahnya. Hal itu membuat ibu kos menegurku. Akhirnya tiap malam popo selalu
tidur dikamarku.
Aku jane, mahasiswa jurusan
sastra inggris yang juga merangkap sebagai karyawan yang sedang stress
menghadapi masa pemindahan jabatan (ini terlalu berlebihan). Kantorku bergerak
dibidang properti, yang menjual beberapa apartment dan perumahan yang ada di
pusat kota. Aku hanyalah seorang receptionis di kantor pemasaran itu, desas
desusnya aku akan dipindahkan menjadi bagian sales promotor. Aku yang
seharusnya tinggal bersama orangtuaku yang berada di cinere, terpaksa pindah ke
pusat kota yang dekat dengan kantor dan juga kampusku.
Menikmati hidup adalah
satu-satunya pilihan hidupku. Jika tidak, mungkin aku sudah berada di rumah
sakit jiwa. Bagaimana tidak? Aku wanita yang berusia 22 tahun harus membiayai
kebutuhanku, dan orangtuaku disana yang sedang merintis usaha. Masalah
penghasilankalo kata orang tua 'kalo ga dicukup-cukupin mah ga cukup'. Jadi
tiap bulan aku harus selalu mengingatkan diriku untuk 'cukup-cukupin'.
Jangan membicarakan soal cinta di
hadapanku sekarang. Aku tidak munafik, aku juga membutuhkan lelaki. Sebetulnya Aku
masih trauma, dengan laki-laki yang sempat menjadi calon suamiku. Walaupun
setengah dari teman-temanku sudah menikah, aku tidak akan euforia dan ingin
buru-buru menikah. Aku harus membereskan karirku, membeli rumah yg lebih besar
untuk keluargaku, dan mewujutkan impian orangtuaku untuk berangkat haji.
Pagi ini aku sudah siap berangkat
ke kantor, aku sedang memanaskan mesin motorku di garasi kos saat Ria memanggilku
dari jendela kamarnya.
"Jane, handuk ngapain lo
bawa ke kantor?"
"Hah?!" Aku melongo
melihat pundak kirikutempat biasa aku menaruh tas selempangku. Bodohnya diriku
bisa salah mengambil tas, malah handuk. Aku kembali ke kamar dan benar siap
berangkat kerja kali ini.
Kulihat kantor masih sepi,
sepertinya aku terlalu pagi. Kulirik jam tangan yg kukenakan. Tepat menunjukkan
angka 9. Loh?! Ada apa ini? Kenapa belum ada yang datang? Aku menaruh tas
selempangku di laci bawah meja receptionist. Ada beberapa catatan kecil post it di kalendar mejaku. Tiba-tiba
aku merasa bodoh untuk yang kedua kalinya pagi ini. Bagaimana aku bisa lupa,
bahwa hari ini semestinya libur?! Ya ampun jane.. Ada apa dengan ingatanmu?
Hari ini para manager dan staf senior akan rapat dengan direksi di puncak. Dan
kantor diliburkan.
Aku kembali ke motor
kesayanganku, sambil memaki diriku bodoh. Pak Toto satpam yang menjaga kantor
sampai bingung melihatku masuk dihari libur. Aku sudah tidak mood untuk balik
ke kosan. Mungkin aku akan pergi ke tempat makan waralaba yang dekat dari
kantor, mengingat perutku sangat keroncongan dan merindukan beberapa bulir nasi
yang bisa kumasukkan ke perut. Karena sudah 3 hari ini aku hanya makan mie
instan dan roti. Memang inilah nasib anak kos. Ckckck
Aku membayar 1 nasi dan ayam
goreng, dan 1 medium hot chocolate. Kupilih meja paling pojok, agar tidak
terlalu mencolok bila ditengah-tengah. Aku melahap nasi dan ayamku dengan
ganas, aku benar-benar lapar. Saat aku selesai makan, aku terpana oleh mobil
yang baru saja di parkir di depanku. Mobil impianku, BMW seri 5. Aku sedikit
melongo melihat kilauan cat putih mengkilat di seluruh bagian mobil ini. Pasti
orang kaya, pikirku. Platnya saja sudah pasti pesan. B 4 RIO. Aku bergidik
ketika melihat plat nya. Entah kenapa aku menjadi gelisah, usai melihat mobil
itu. Ku tenggak minumanku, berharap kegelisahanku menghilang.
Aku tersedak hebat ketika aku
melihat sang pengemudi BMW impianku itu keluar dari mobilnya. Ternyata ini
maksud dari si kegelisahan tadi. Seorang lelaki yang kukenal sejak SMA, menjadi
partner kerja di tempat lamaku dan menjadi mantan gebetanku. Dari dulu aku suka
padanya, tapi karena ada seseoran yang mengatakan akan menikahiku, aku jadi
melupakan dia, sampai akhirnya orang yang berjanji menikahiku itu selingkuh.
Yah itulah tragedi di hidupku. Sekarang jantungku mulai berdebar hebat. Aku
melihat dari sudut mataku, lelaki itu berjalan ke arahku. Astaga, bagaimana
ini? Apa rambutku rapi? Apa eyelinerku berantakan? Lalu apa kalimat yang akan
aku katakan padanya saat dia menyapaku?
Aku meluruskan pandangan mataku,
dan melihat lelaki itu ternyata bukan berjalan menuju mejaku, tapi menuju pintu
masuk yg ada di samping mejaku. Tiga kali kebodohan yang kubuat, aku sudah
terlalu GeEr berharap Rio akan menghampiriku, dan menyapaku. Sepertinya dia
sudah lupa dengan ku. Biarlah, mungkin dia sudah melupakanku juga. Karena
terakhir kali, aku sempat membuat dia kesal karena kebodohanku.
Ini penyakit lamaku, setiap aku
minum hot chocolate aku pasti beser.Aku menunggu di depan pintu toilet gabungan
pria dan wanita, menunggu giliran. Kenapa toko ini hanya menyediakan 1 toliet
saja sih?!Aku sudah tidak tahan.
Cklek!
Pintu tolet terbuka, Yes!
Akhirnya giliranku. Tapi aku tersentak ketika yang keluar adalah seorang pria,
bukan prianya yang membuat aku tersentak. Tapi dia Rio, ya ampun dia menatapku.
"Jane?!" Serunya
dihadapanku
"Ya ampun kamu kemana
aja?"
"Eh rio, aku udah pindah.
hm.. Aku bisa masuk dulu.. Aku ga tahan.." Aku langsung berlari kecil
melewatinya. Rio begitu wangi, wangi yang sama saat aku mengenalnya.
Di dalam toilet, setelah aku
merasa lega. Aku mengambil cermin yang ada dalam tas ku, kulihat wajahku tidak
terlalu buruk saat ini, bahkan untuk bertemu lagi dengan Rio. aku keluar dari
toilet, dan terkejut melihat ternyata Rio masih menungguku di luar pintu
toilet.
“loh? Kok masih disini?”
“nunggu kamu” jawabnya sambil
tersenyum, senyum yang sama persis dua tahun lalu sebelum aku pergi
meninggalkannya. Rio mengajakku keluar bersama, kami duduk di pojok tempat aku tadi.
“kamu kerja dimana sekarang?”
“Mitra Resident, kamu masih di
Royale club?”
“masih, kenapa ga bilang sama aku
kalo kamu pindah?”
“kamu kan lagi keluar kota waktu
aku pindah”
“kan ada handphone?”
“hp aku dijual, dan ga inget
nomer kamu.” Jawabku bohong, padahal aku ingat persis nomernya. Bahkan nomer
baju, sepatu dan celananya. Maklum, setiap dia ulang tahun aku memberinya
sepatu, atau baju.
“trus sekarang ga megang hp?”
Aku berkernyit “pegang lah, se
gak mampukah aku sampe ga bisa beli hp”
“maaf deh..gimana kamu sama Eri?”
nah inilah pertanyaan yang selalu aku hindari, Rio sam sekali ga tahu kalau
hubungan aku dengan Eri sudah lama berakhir.
“putus” jawabku acuh
“kok bisa? Kalian mau nikah kan?”
“selingkuh”
“kamu selingkuh?”
Aku memutar bola mataku, bagaimana
bisa Rio berpikir aku yang selingkuh?
“Eri” jawabku masih tak acuh
“oh… aku kira. Sabar ya…” aku tau
pasti itu yang keluar dari mulutnya.
“sabar itu nama tengahku” jawabku
asal, membuat Rio tertawa. Tertawa saja dia terlihat begitu tampan.
“gimana pacarmu?”
“aku??” jawabnya menyakinkan
pertanyaanku. Karena yang ku tau dua tahun lalu dia tidak punya pacar, ya siapa
tau seteah lama tak bertemu dia sudah mempunyai kekasih. Aku mengagguk dan
menanti jawabannya.
“ngga ada, mungkin belum ketemu
kali”
“ya yang penting kamu beruntung.
Belum ketemu pacar, tapi udah punya mobil baru”
“haha, bisa aja kamu. Kamu ga
kerja? Bolos ya?”
“libur, lebih tepatnya aku lupa
kalo hari ini kantor aku libur. Makanya aku kabur kesini” lagi lagi Rio
tertawa. Entah kenapa melihatnya tertawa membuat jantungku berdebar. Kami melanjutkan
obrolan kami, sampai tak terasa kami sudah mengobrol selama 1 jam. Rio hari ini
juga libur, karena kemarin dia dinas selama seminggu. Dan kantornya mengizinkan
dia libur selama dua hari.
Memang hari ini adalah hari bodoh
dan hari keberuntunganku. Baru kali ini mimpiku langsung jadi nyata kurang dari
24 jam. Yaah, walaupun aku tidak bertemu dan memegang tangannya di jeju, tapi
ini saja sudah membuatku begitu bahagia. Aku bisa bertemu dengan Rio lagi, setelah
dua tahun tidak bertemu. Saat kami sedang asik mengobrol, rio mengangkat
teleponnya entah dari siapa di berbicara karena dia berbicara menjauhiku. Aku
benar-benar merindukan Rio, andai aku bisa begitu berani mengungkapkan
perasaanku padanya saat ini. Tapi aku tidak bisa, mengingat aku tidak pernah
tahu apa isi hati rio sebenarnya padaku.
Kulihat rio kembali berjalan kearah meja kami, dia sudah selesai
menelpon. kulihat mukanya begitu sumringah ketika duduk di hadapanku.
“seneng banget kayaknya? Pasti
dari cewek kamu”
“masa? Hahaha” wajahnya agak
memerah. “tapi kan aku udah bilang, kalo aku yang punya pacar”
“yee, emang aku bilng pacar, kan
aku bilang cewek kamu. Bisa berarti itu gebetan kamu, atau orang yang kamu
suka”
“wah telepatimu bagus juga ya…
kamu tahu Olivia?” nafasku sedikit tercekat, ternyata benar itu dari wanita
yang Rio sukai. Aku menganasilisis setiap nama yang aku kenal, Olivia yang
begitu familiar di pikiranku dia adalah manager royale club saat aku masih kerja
disana. Jadi Rio menyukai dia? Olivia memang cantik, bagaikan ratu di kantor ku
yang dahulu. Ingatanku tentang dia kurang baik, karena sebagai manager dia
tidak begitu menjaga profesionalitas dengan baik. Ditambah aku pernah dilabrak
olehnya saat aku berhubungan dengan Eri, memang saat itu Olivia juga menyukai
Eri. Tapi sekarang kenapa dia mendekati Rio, dan bisa-bisanya Rio menyukainya. Aku
mengangguk pelan saat Rio bertanya padaku.
“menurutmu apa aku cocok dengan
dia?” miris rasanya mendengar dia bertanya padaku.
“hmm… pengen banget dikasih tau?”
lagi-lagi rio tertawa
“haha, aku serius kali ini.
Menurutmu gimana?”
“cocok, secara kamu tampan, dan
dia cantik” jawabku datar dengan sedikit senyuman palsu. Saat dia mendengar
pendapatku terlihat dia begitu sangat senang, tapi ada ketidakpuasan yang
terpancar dari matanya.
“kenapa?” tanyaku
“tapi, aku bingung gimana cara
ngomongnya ke dia.”
“ngomong apa?”
“aku pengen dia jadi pacarku.”
Hatiku mencelos saat mendengar jawaban Rio.
“ya gampang kamu tinggal ngomong
aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku?” andai aku bisa seberani ini
mengeluarkan kalimat yang mestinya aku katakan pada rio.
“yah, kamu ngomong gampang. Tapi
melakukannya itu susah jane..” aku tahu persis apa yang dirasakan Rio, karena
memang saat ini aku juga merasakan hal yang sama.
“haha, biarkan mengalir aja saat
kamu mau ngomong sama dia. Jangan terlalu dipaksakan, atau menggebu-gebu.”
“wah, kamu emangcocok jadi
consultant cinta. Haha”
“apa sihh…” aku berkernyit
mendengar pernyataanya, “gimana ceritanya kamu bisa suka sama dia?”
“love first sight”
“cih…” aku membohongi diriku,
padahal itulah kenapa aku bisa suka dengannya.
“hahahaha, emang kamu ga
percaya?”
“ngga” aku berbohong
“kamu harus coba, rasanya itu
berbunga-bunga” kulihat wajahnya memang tampak berbunga-bunga.
“Rasa Mangga aku mau..” Rio
kembali tertawa setiap aku asal menjawab apa yang dia katakan.
Pupus rasanya melihat dia begitu senang dengan
Olivia. Tapi apa dia tidak merasa bahwa dahulu aku juga memperhatikannya,
selalu peduli saat dia ada masalah, saat kami saling bertukar pendapat, saat
aku memberi surprise saat dia ulang tahun. Apa Rio tidak bisa melihatnya dari
sudut mataku, bahwa aku juga menyukainya? Obrolan kami berakhir saat akhirnya
aku menyarankan Rio untuk memberikan Surprise pada Olivia, sama seperti apa
yang aku lakukan padanya dahulu. Rio langsung bergegas ke toko kue coklat, dan
berpamitan denganku, meninggalkanku sendiri yang sedang gundah karena aku
sangat merindukannya tapi juga sakit mendengar dia menyukai wanita lain.
Malam ini suara popo melengking
saat aku mengerjakan esai dari salah satu novel kate brian. Dia terus
mengeluskan kepalanya pada pahaku, ciri-ciri dia sudah begitu lapar. Tapi
tugasku harus selesai malam ini karena harus aku kirim lewat email ke dosen ku.
Tapi popo tampaknya tidak menyerah, kini dia berada di pahaku dengan matanya
yang memelas memandangku.
“arhhh… jangan keluarkan mata memelasmu
ituu.” Karena aku tidak tahan melihat matanya yang tampak begitu memelas,
akhirnya kuputuskan untuk memberinya dia makanan. Saat dia lahap memakan
makanannya, aku menlanjutkan tugas esaiku ini. Tak lama kemudian seseorang
mengetuk pintu kamarku, sebelum aku membalasnya orang itu sudah masuk ke
kamarku. Aku hanya mendengar pintu kamarku terbuka tanpa melihat kearahnya
karena aku masih focus mengerjakan tugasku, feelingku sudah pasti Vita,
sahabatku. Aku mengenalnya saat aku masih di kantorku yang lama, dan kami juga
masuk kuliah dengan jurusan yang sama.
“janeee… mau martabak ga?”
kulirik dia dari sudut mataku, dia mengeluarkan sebungkus plastic yang tercium
aroma martabak manis. Fokusku buyar, saat merasakan perutku bergejolak hebat
mencium aroma martabak yang di bawa Vita. Dari pada aku tambah tidak focus,
kupoutuskan untuk istirahat sejenak, dan memakan martabak yang di bawanya.
“lo tau aja kalo gue lagi
laper..” kataku saat mengambil martabak coklat kacang kesukaanku.
“oh iya doong, gue tau lo lagi
kere tanggal-tanggal segini. Makanya gue bawain makannan.”
“eh, sial lu”
"Poster nambah lagi tuh
satu, siapa?" Vita menunjuk poster kim hyunjoong. Aku memang penggemar
korean artis, tapi tidak semuanya aku suka. Favorite ku adalah kim bum, di
setiap sisi kamarku sudah ada 7 poster kim bum yang bertengger di dinding
kamarku. Sisanya beberapa artis yang aku suka salah satunya kim hyun joong.
"Hyun joong oppa"
"Emang ye, teman gue yang
paling alay tuh elo doang."
"Alay darimana? Itu namanya
ngefans!"
"Iya, tapi kampungan"
"Heh, lebih kampung band
yang semua personilnya polem-polem itu ya! K-pop artis mah sudah internasional.
Lu nya aja yang udik!"
"Hahaha, bodo! Gue mah ga
suka, muka-mukanya kayak homo"
"Yeh itu imut tau!"
"Wuek" kini Vita duduk
di hadapan laptopku, memperhatikan layarnya dengan seksama sebelum akhirnya dia
bertanya.
“esai dari siapa nih?”
“pak robi” jawabku dengan mulut
penuh dengan marbak, vita membelalak saat melihatku dalam kondisi ini.
“ehh, lu belom makan seminggu
ye?”
“hahaha…Eh lo tau ga? dua hari
yang lalu gue abis ketemu seseorang.”
“pasti Eri” jawabnya acuh dan
kembali melihat kelayar.
“bukan, gue ketemu Rio”
“hah?!” kini dia sepenuhnya
memutarkan tubuh kearahku. “kok bisa?! Dimana?!”
“hahaha, di tempat biasa kita
nongkrong.”
“trus dia gimana? Ganteng ga?”
“lebih ganteng, kayak kim bum
oppa. apalagi dia sekarang beli mobil baru BMW seri 5”
“serious?! Beruntung banget lo.
Seneng dong lo ketemu dia?”
“seneng sih, tapi gue juga sakit
hati tau! Dia suka sama Olivia."
"Idih, seleranya minim amat
sih"
"Yeeh, oliv tuh cantik.
Wajar kalo rio suka sama dia"
"Tapi masih cantikkan elo
jane! Lo harus pede dong, lo tuh ga kalah cantik sama oliv. Udah sana rebut
hati rio."
"Lo ngomong enak, lo ga tau
jantung gue mau copot setiap gue liat senyumnya dia"
"Hahaha, labay!"
"Yeh,kayak lo ga lebay aja
tiap ketemu mantan lo si yusuf" kulihat vita tersentak saat aku menyebut
nama mantannya. "Makanya move on dong"
"Janee!!!" Vita
langsung menyerangku dengan bantal yang ada di sebelahnya, membuat aku dan dia
perang sejenak. Yusuf itu mantan yang begitu dia cintai, sampai-sampai dia ga
rela hubungan mereka berakhir, makanya dia tetap mempertahankan perasaan
cintanya. Kami sudah ngos-ngosan selesai perang bantal,
"Lo juga ga move on dari
rio! Jangan muna deh!"
"Haha, kan rio bukan mantan
gue"
"Tetep aja itu masuk
itungan! Kayak ga ada cowok lain aja?!"
"Yauda, gue move on deh dari
rio. Tapi gue sama yusuf yee? Hahahaha" jawabku iseng
"JANE!!!" Dan perang
pun berlanjut lagi...
Sore ini aku pulang kantor dengan
muka bersungut. Aku mendapat pesan dari temanku, bahwa hari ini yang semestinya
libur kuliah jadi masuk karena dosen yang menyebalkan itu akan memberikan kuis.
Aku berjalan kearah motor kesayanganku, sambil melintasi jembatan kayu yang
menghubungkan kantor dengan parkiran. Sore ini tampak mendung, sepertinya akan
hujan. Aku menyalakan motorku dan tersentak saat kedua tangan dari arah
belakang menutupi mataku. Dan saat aku memutar badanku, jantungku seperti
benar-benar tak pada tempatnya.
"Eri?!" Ada perasaan
kesal, kaget, tapi tidak untuk rindu padanya, rasaku sudah benar-benar mati
untuknya.
"Haii, apa kabar?"
Katanya sambil tersenyum
"Ngapain kamu disini?!"
Jawabku ketus
"Pengen ketemu kamu, ada
yang pengen aku omongin"
"Kenapa aku? Emang udah ga
ada orang lain yang mau dengerin kamu ngomong?"
"Iya, memang ga ada lagi
yang bisa mendengakanku lebih baik selain kamu"
"Cih..."
"Aku serius"
"Sayangnya Aku harus
buru-buru. Ada kuliah 2 jam lagi"
"Sebentar aja. Aku mau
cerita. Pleasee.."
Aku menghela nafas panjangku,
"yaudah sebentar" aku mengajaknya duduk di bangku taman kantorku. Dia
mulai menceritakan kenapa di bisa disini.
"Aku kangen sama kamu"
"Ga usah basa-basi,
kenapa?"
"Okee, aku nyesel mutusin
kamu." Aku bergeming sama sekali tidak merespon perkataannya.
"Aku juga nyesel, lebih
milih gita dibanding kamu saat itu"
"Kenapa? Kan kamu cinta mati
sama dia? Trus kamu katanya mau nikah sama dia."
"Ternyata gita udah punya
anak.." Jawabnya sambil menunduk. Aku sendiri agak terkejut mendengarnya.
"Kalian kan sudah 2 tahun
berhubungan, kok ga tau dia punya anak? Trus kamu tau dari mana dia punya
anak?"
"Dua tahun ini memang aku
berhubungan tapi aku ga pernah di ijinin untuk datang kerumahnya. Kemarin aku
nekat kerumahnya, karena ada satu masalah yang pengen kami selesaikan. Tapi
ketika aku berhenti di samping rumahnya aku lihat ada anak kecil sekitar umur 5
tahun sedang dia gendong."
"Mungkin aja itu
ponakannya" jawabku datar
"Ngga, aku nanya langsung
sama anak itu. Waktu dia jajan di warung dekat rumahnya, aku nanya apa dia
ponakannya gita? Dia jawab kalo gita itu ibunya."
"Bukannya bagus?"
"Apanya yang bagus? Dia udah
bohong sama aku"
"Loh? Kamu kan mau calon
istri yang keibuan. Aku rasa gita sudah memenuhi syaratmu. Dia bukan hanya
keibuan. Tapi dia benar-benar seorang ibu"
"Tapi dia ngehianatin aku.."
"Kamu juga" jawabanku
membuat Eri bergeming, aku mendengar helaan nafasnya, dan kini dia menatapku
nanar.
"Maafin aku.." Jawabnya
dengan satu air mata yang mengarir di pipi kanannya. Aku mencoba setegar
mungkin berhadapan dengannya saat situasi seperti ini. Tidak akan aku
membiarkan air mata buayanya meluluhlantahkan hatiku kembali.
"Tenang aja, aku udah maafin
kamu dua tahun yang lalu"
"Aku tahu, ini mungkin karma
untuk aku"
"Itu kamu tahu"
"Makanya aku bener-bener
nyesel melepas kamu, aku baru sadar bahwa kamu yang terbaik buat aku, please
jane beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi"
"Apa? Kesempatan apa? Lebih
baik kamu ngomong sama gita baik-baik dan memperbaiki hubungan kamu dengannya.
Dari pada buang-buang waktu kamu seperti ini, kamu ga punya kesempatan apapun
dalam hidupku lagi." Kini aku berjalan meninggalkan Eri yang masih
terpaku. Jangan harap aku akan memberimu satu kesempatan. Cukup kau
menghacurkan hidupku selama setahun, membuatku ngelangsa dan aku tidak akan mengulangnya
lagi. Aku juga sadar bahwa hatiku hanya bisa terisi untuk Rio seorang, walupun
aku harus menerima kenyataan yang tak sejalan.
Sudah dua minggu lebih sejak aku
bertemu Rio, tapi kami belum bertemu lagi, mungkin dia sedang sibuk. Kami hanya
saling sms, itu juga hanya 2x. Aku benar-benar merindukan rio saat ini. Malam
minggu kali ini hujan,aku menatap keluar jendela kamar berharap andai Rio
datang dan mengajakku keluar untuk sekedar jalan. Lamunanku terbuyar saat aku
mendengar dering handphoneku. Aku mengambil nya dari tasku, dan langsung aku
angkat tanpa melihat kelayarnya.
"Halo jane? Apa kabar?"
Jantungku berdebar saat mendengar suaranya. Kulihat layar hp ku sekilas, dan
kudapati di layar nama Rio.
"Eh..haii.. Baik. Kamu
gimana?"
"Baik, eh kamu malam ini
sibuk ga?"
"Ngga, mana ada orang yang
malem minggu sibuk" aku mendengarnya tertawa di sebrang sana.
"Aku lagi di cafe bastile,
kamu bisa kesini ga? Ada yang mau aku omongin." Nafasku tercekat ketika
mendengar kata-kata rio.
"Oh iya bisa kok"
jawabku cepat
"Yaudah aku tunggu
ya..bye" aku begitu senang sampai aku loncat kegirangan membuat popo marah
karena buntutnya terikjak olehku. Akhirnya Rio mengajakku ketemuan, aku
langsung bergegas menuju lemari, mencari pakaian yang tampak feminim dengan stelan
jeans. Aku pilih semi coat berwarna coklat muda se atas dengkulku.
Hujan sudah tampak reda, saat aku
ingin beranjak ke tempat tujuan. Motorku sudah kunyalakan, aku sengaja tidak
memakai jas hujan karena ini hanya rintik-rintik kecil.
Aku sudah sampai di cafe, aku
memasukki cafe dan langsung tercium
aroma expresso. Aku melihat di setiap tempat duduk di cafe ini. Dan aku melihat
seorang pria melambai kearahku, dia begitu sangat tampan dengan polo shirtnya.
Aku menghampirinya, berjalan perlahan sambil memberbaiki rambut ku. Cafe ini
tampak begitu romantis, karena di temani musik musik beraliran jazz. Kini aku
duduk di hadapan Rio, jantungku berdetak mulai tak karuan saat melihatnya
tersenyum.
"Kamu hujan-hujanan?"
"Sedikit, cuma gerimis
tadi"
"Kenapa ga pakai jas hujan?
nanti kamu sakit" hatiku tiba-tiba luluh saat rio peduli denganku. Rio
lengsung menawakanku makan dan minum, aku memilih 'four season steak' dan hot
chocolate. Kami saling mengobrol sampai makanan kami diantar. Dia meminta maaf
padaku saat dia tidak bisa menghubungiku, aku maklumi karena dia begitu sibuk
dengan pekerjaannya. Kami sudah selesai makan saat Rio berterima kasih padaku.
"Terimakasih untuk
apa?" Tanyaku kembali
"Berkat saran kamu, usahaku
jadi lancar" kulihat seyumnya mengembang di wajahnya, membuat dengkulku
lemas setengah mati.
"Usaha? Kamu lagi buat usaha
memangnya?"
"Haha bukan jane, usahaku
ngomong sama olivia."
DEG!
Jantungku seakan berhenti
berdetak, aku pikir dia mengajakku kesini untuk diriku. Tapi untuk membicarakan
olivia, aku berusaha memunculkan wajah poker face ku sebisa mungkin di
hadapannya. Berharap dia tidak akan menemukan wajah cemburuku padanya.
"Waw, bagus doong.. Trus
gimana? Kalian pacaran dong?"
"Aku ga pacaran sama dia,
aku mau tunangan sama oliv" aku pastikan hatiku saat ini benar-benar
hancur. Pikiranku kosong, aku tidak dapat mendengar dengan jelas saat rio
kembali bercerita tentang rencana pertunangan mereka. Aku tersadar saat rio
memberiku satu amplop undangan. Kulihat disitu tertulis Rio dan Olivia, rasanya
aku ingin menangis. Tapi akan menjadi bodoh jika ketahuan Rio saat ini.
"Ini undangan buat kamu,
besok kamu datang ya." Aku masih terdiam, mengatur detak jantungku agar
kembali normal, dan berharap nafasku yang mulai sesak ini mereda.
"Iya, insya Allah aku
datang" jawabku sambil tersenyum.
Malam ini begitu memilukan
bagiku. Aku tidak memperpanjang pembicaraan kami saat Rio bercerita
mengungkapkan kebahagiaannya kepadaku. Aku berpamitan dengannya, dengan alasan
sahabatku mengajak aku pergi. Aku meninggalkan Rio yang masih tersenyum dan
berterimakasih padaku saat aku sudah membelakanginya. Aku berlari kecil menuju
parkiran, aku pikir hujan sudah berhenti ternyata hujan kembali deras. Bodohnya
aku tidak membawa jas hujan di jok motorku. Aku tetap melajukan motorku,
sengaja kubiarkan diriku basah di guyur hujan, kulewati hawa dingin yang
menusuk kulitku dan kurelakan air mataku jatuh bersamaan dengan derasnya air
hujan.
Aku sudah menggigil ketika sampai
di tempat kosku. Aku berjalan menaiki tangga, menuju kamarku yang berada
dilantai dua. Ku dapati vita sedang menunggu ku di bangku depan kamarku, sambil
bermain dengan popo. Dia terkejut melihatku basah kuyup, entah dia juga
terkejut apa tidak melihat airmataku mengalir di wajahku.
"Lo kenapa jane?" Vita
melongo ke wajahku yang basah karena hujan dan air mata. "Lo nangis kenapa
jane?" Tangisanku tambah kuat saat vita bertanya padaku, membuat badanku
gemetar dan tambah menggigil sampai aku merasakan paru-paruku kehabisan udara,
asma ku kumat. Aku merasakan diriku terjatuh ke pintu kamarku. Vita yang panik
langsung mengambil benda yang yang semestinya aku butuhkan. Tapi dia tidak
menemukannya di tas ku. Mataku buram, aku hanya melihat sekelompok cahaya kecil
berpendar di depanku dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku saat
cahaya itu menghilang di kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar