Senin, 28 Januari 2013

Forever in Seoul part 3


Sudah dua hari aku bekerja kembali semenjak aku jatuh sakit. Rio masih tetap menelponku, tapi tetap tidak aku angkat. Aku izin untuk tidak kuliah karena hari ini aku sangat lelah, semenjak aku sudah di pindahkan menjadi seles promotor. Aku kembali ke kosan saat sore menjelang malam. Aku terkejut saat mendapatkan Eri duduk di sebelah kamarku.
“ngapain kamu disini?” aku langsung menuju pintu kamar
“ada yang mau aku omongin”
“apa lagi?”
“apa kamu udah bisa ngasih aku kesempatan lagi?”
Aku membalikkan tubuhku dan menatapnya, “ga jelas kata-kata aku waktu itu?”
“kasih aku satu jane, aku bisa memperbaiki ini semua. Sikap kamu ini membuatku merasa bersalah”
“loh?! kamu memang pantas mendapatkan perasaan itu”
“jane… please”
“ini terakhir kali aku bilang sama kamu ri. Aku udah ga punya perasaan apapun sama kamu, dan aku ga akan ngasih kamu kesempatan. Lebih baik kamu kembali ke Gita.” Jawabku tegas, kini aku melihat matanya seperti menuntutku. Dia mendorong badanku ke pintu kamarku yang belum sempat aku buka. Eri memegang kedua tanganku, dan merapatkan tubuhnya kearahku. Aku meronta hebat saat dia seperti ingin menciumku.
“Eri! Lepasiin!” permintaanku sepertinya tidak ia gubris. Dia tetap memajukan wajahnya, aku semakin berusaha untuk melepaskan cengkraman tangannya yang begitu kuat.
“Erii! Arghk!” tanganku begitu sakit. Kini jarak kami sudah sangat dekat aku memalingkan wajahku. Sekilas Aku melihat Rio di balik punggung Eri, tiba-tiba sebuah pukulan membuat Eri jatuh terkapar memegang wajahnya.
“oh, jadi lo yo?” kulihat eri bangkit kembali dengan emosi yang membara dan berusaha menghajar Rio yang kini berdiri menghalangiku. Tapi ternyata Eri terlalu lambat, rio berhasil memukulnya untuk yang kedua kali, dan lagi lagi dia jatuh terkapar. Tapi kini dengan darah yang keluar dari bibirnya.
“jangan pernah deketin apalagi nyakitin dia lagi! ”
"Jadi sekarang lo sama jane?"
"Iya, jane calon istri gue." Aku tersentak saat rio mengatakannya, jantungku berdebar tak karuan. Walaupun aku tau ini hanya gertakan rio semata.
"Oohh.. Jadi ini jane, alasan kamu ga ngasih aku kesempatan? Kamu mau nikah sama laki-laki ini?!" Kini aku terlalu takut untuk menjawab Eri.
"Gue harap lo bisa pergi dari sini" sahut rio, kulihat eri yang sudah bangkit berdiri, kini hendak menghampiriku. Tapi tangan rio memundurkan langkahnya.
"Oke, gue pergi" Eri memasang tatapan marah ke rio saat dia hendak pergi dari sini, sekarang aku yang takut jika rio kenapa-kenapa diluar sana. Rio membalikan tubuhnya dan menatapku.
“kamu ga apa-apa?” nafasku semakin memburu, sepertinya asmaku mulai kumat. Aku gemetaran mencari ventolin di tasku, rio ikut membantuku duduk dan mencari kedalam tasku. Tak lama aku menemukan benda itu sebelum nafasku habis. Aku menghirupnya dalam-dalam, beberapa menit kemudian asmaku mereda. Kini aku bisa menatap Rio dengan jelas di hadapanku bersiku.
“kamu kenapa ga ngasih aku kabar? Kamu beberapa hari yang lalu dirawat kan?”
“kok tau?” aku menerka-nerka darimana dia tahu aku dirawat.
“kenapa telepon aku ga kamu angkat?”
"Tau dari mana aku sakit?"
"Kantormu"
"Trus, tau darimana aku tinggal disini?"
"Kantormu, sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa telpon ku ga pernah kamu angkat?" Kini aku bingung menjawab pertanyaannya. Aku mencari-cari alasan agar tidak terkesan membohonginya.
"Kan aku sakit, aku ga bisa pegang hp dulu. Eh, tau dari mana kantorku?"
“kamu kan pernah cerita, makanya waktu kamu ga ada kabar aku langsung samperin ke kantormu.Kemarin kamu udah sembuh, kenapa ga di angkat?"
"Aku sibuk, lagi presentasi" kini Rio terlihat percaya padaku. Dia duduk di sebelahku, aku meliriknya. Matanya memandang kedepan dengan kosong, tapi pikirannya tampak terlihat ada beban.
"Gimana acara pertunanganmu dengan oliv?"
“hm? lancar" sepertinya aku menanyakan hal bodoh, jawaban Rio seakan mengingatkanku pada hancurnya harapanku padanya. Ditambah dia sedang memutar-mutar cincin yang bermatakan 3 berlian, di jari manisnya. Membuat aku iri setengah mati dengan Olivia.
"Ada yang mau kamu ceritain? Bukannya aku sok tahu, tapi kayaknya kamu lagi ada masalah"
"Emangnya kelihatan jelas?" Aku mengangguk
"Haha, ternyata aku ga pandai menyimpan masalah. Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" Aku mengangguk sekali lagi
"Apa yang akan kamu lakukan, jika orang yang kamu cintai. Lebih memilih orang lain, dibanding kamu?" Pertanyaan Rio seperti dua pisau sekaligus menusuk hatiku. Dia menanyakan ini karena aku pernah melewatinya saat aku sakit dengan Eri. Tapi juga pertanyaannya tepat seperti apa yang aku rasakan padanya saat dia bertunangan dengan oliv.
"Jane," dia membuyarkan lamunanku.
"Merelakannya" jawabku tanpa memandangnya.
"Setelah itu?"
Kini aku mulai menatapnya, "Mencoba melupakannya"
"Kalo ga bisa?"
"Anggap saja itu kenangan manis kamu bisa bertemu dengannya" mendengar jawabanku Rio mengembangkan senyum padaku membuatku ikut tersenyum padanya. Entah kenapa hatiku kembali luluh saat aku melihat rio kembali, dan menyesal karena aku telah menyuruh vita untuk membakar foto-fotonya.
“kenapa kamu Tanya hal itu?”
“nggak apa-apa, lagi kepikiran aja sama seseorang”
“siapa? Oliv?”
“hahaha…Ada deh mau tau aja…” jawaban Rio membuatku semakin penasaran, ada apa yang dengannya? Apa dia sedang bermasalah dengan oliv?
"Trimakasih ya" ungkapku pada Rio
"Untuk?"
"Menghajar Eri" rio terbahak mendengar jawabanku
"Haha dengan senang hati.."
Kami tertawa bersama, sore ini adalah sore yang mendebarkan bagiku, mungkin juga bagi rio. Tapi aku juga sadar sepertinya agak susah saat ini untuk mulai melupakannya.

Hari ini mata kuliah pak robi ditiadakan, berhubung beliau sedang ada rapat. Anak-anak begitu girang karena bisa pulang dengan cepat. Tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak ingin pulang cepat, entah kenapa mood ku benar-benar tidak mau di kosan. Lebih baik aku menghampiri vita yang barusan menghubungiku kalau sekarang dia berada di comik cafe.
Aku menghampiri vita yang sedang membaca salah satu komik dari beberapa tumpukan yang dia bawa ke meja.
"Hei" sapaku
“Eh?! Kok lo disini?”
"Ga boleh?"
"Ngga" jawabnya sebelum aku memesan banana split dan jus mangga pada pelayan. Aku melihat vita yang celingukkan melihat kearah belakangku, membuat aku penasaran apa yang sedang dia lihat.
"Lo liat apaan sih?!"
"Ssttt.. Diem" aku menoleh lagi untuk yang kedua kalinya, sepintas aku melihat yusuf yang sedang duduk dan membaca komik di pojokkan, jauh dari meja kami.
"Ooo.. Jadi lo kesini cuma mau ngeliatin dia? Percuma, lo liatin juga ga bakal balik lagi tuh orang, samperin giih.."
"Gila lo?! Gue tuh ga sengaja ketemu dia, udah lo diem aje. Cuma kayak gini nih gue bisa menghilangkan rasa kangen gue ke dia"
"Eh, gue kasih tau ya. Dia itu lagi nunggu cewek"
"Hah?! Yang bener lo? Siapa?" Mukanya begitu panik
"Gue! Hahaha" Sontak vita kesal dan memukulku dengan komik yang sedang dia pegang.
"Rese lo jane! Bikin jantungan aja!"
"Haha, makanya buruan samperin, dari pada lo sakit hati ngeliat dia di samperin cewe lain. Hahaha"
"Iiih jangan dong"
"Makanya samperin, atau gue nih yang samperin?!"
"Janee!!" Vita memukulku lagi, membuat aku berteriak, entah karena mendengar suaraku atau apa, vita langsung terdiam.
"Lo kenapa?haha" kini dia terlihat takut di hadapanku. Dia tidak menjawab pertanyaanku, tapi bola matanya seperti mengisyaratkan sesuatu. Aku tidak yakin dengan isyaratnya, membuat aku menoleh kebelakang dan aku terkejut saat melihat yusuf berjalan menghampiri meja kami. Pantas saja anak ini tiba-tiba menjadi batu.
"Hei, kalian disini juga?" Kulihat vita sepertinya masih mempersiapkan mental untuk berbicara dengan yusuf. Karena terlalu lama, akhirnya aku menjawabnya.
"Iya, lo dari kapan cup disini?"
"Dari tadi sih, boleh gabung?" Kini aku menatap vita yang masih diam seperti tak bernyawa.
"Emm.. Bo..leh, boleh.." Kurasakan kakiku diinjak dengan kuat, aku meringis menahannya.
"Apa kabar kalian?" Tanya yusuf yang kini duduk diantara aku dan vita.
"Baik" jawabku cepat, tapi tidak dengan vita.
"Tapi ga tau deh tuh vita, kayaknya lagi sakit. Kena serangan jantung.. Auuww!" Vita kini menginjakku lebih keras.
"Gue baik kok.." Jawabnya tanpa melihat ke yusuf.
Sesaat setelah vita menjawab ponselku berdering, membuat getaran diantara keheningan yg menyusup diantara kami. Saat ku lihat layar ponselnya ternyata Rio. Kini aku yang terkena serangan jantung melihat layar ponselku sendiri. Bergegas aku mengangkatnya sebelum menjadi panggilan tak terjawab. Suara diseberang sana terdengar parau, dan seperti kesakitan. Karena tak jelas aku meninggalkan vita dan yusuf untuk mencari tempat yang sunyi, dan kulihat vita nampak tak ingin jika aku beranjak meninggalkannya.
"Halo.. Haloo.. Rio, suara kamu ga jelas"
"Ha..lo.. Janee.. Arghh" jawabnya terdengar menahan sakit
"Rio kamu kenapa?"
"Kamu bi..sa kekantor ku sekarang?" Kini aku seperti terkena serangan panik. Takut hal yang buruk telah menimpa Rio. Aku mengiyakan , dan langsung bergegas mengambil tas. Dan berpamitan pada vita dan yusuf.
Dijalan aku tidak konsen sama sekali, lagi pula malam-malam begini sedang apa dia dikantornya? Sesaat setelah aku memarkirkan motorku, aku berlari secepat mungkin kedalam kantor. Seisi kantor ini membuatku kembali teringat pada semua kenangan yang sudah aku tinggalkan. Ternyata ingatanku masih bekerja dalam situasi seperti ini, aku membuka pintu ruangan asisten GM di lantai 2. Kudapati rio terkapar disamping meja kerjanya yg tak lagi rapi. Ku lihat sekeliling kantornya berantakan. Aku menghampirinya, dan jantungku tercekat saat melihat wajahnya yang hampir semuanya berlumuran darah, lengan kemejanya sobek, darah segar menetes di bibirnya. Reflek aku teriak minta tolong, tapi sepertinya aku bodoh jika terus teriak di tempat sepi seperti ini. Akhirnya aku menelpon ruangan security yang tertera di meja kerja Rio dan setelah itu menelpon ambulance.
 Hanya dalam 15 menit ambulance tiba, dan para security membopong Rio yang terkapar lemas tak berdaya itu memasuki ambulance. Tak sadar air mataku mengalir dan sepertinya tak bisa berhenti sampai Rio sadar. Aku tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi dengannya, tapi tampaknya ini seperti pengeroyokan. Siapa yang mempunyai masalah dengan Rio, karena begitu banyak rekan-rekannya dan tak bisa kukenali satu persatu.
Sudah hampir 1 jam semenjak rio masuk IGD. Aku menunggu di pintu keluar ruang perawatan. Duduk dan tidak bisa mendiamkan kakiku yang sejak aku duduk bergetar, aku sudah menelpon Vita, agar ia bisa menemaniku disini. Ku lihat dokter keluar dari ruangan,
"Gimana dok?"
"Syukurlah, sebentar lagi pulih. Ada 2 jahitan di wajahnya bagian rahang dan dekat dengan pelipis. Untungnya tidak terlalu dalam, karena itu bisa berakibat fatal."
Seketika aku menarik nafas lega, tapi belum bisa tenang. Tak lama vita datang dengan yusuf, menghampiriku. Aku menghambur ke pelukan vita dan kuceritakan semua yang barusan menimpa Rio.

Forever in Seoul Part 2


Jane » Flassback
Berawal dari perkenalan outbound yang kantor kami adakan. Outbound yang diadakan untuk lebih membaur sesama karyawan dan atasan. Aku mengenal Rio lebih dalam saat aku satu kelompok dengannya, membuat aku bukan hanya merasa dia adalah teman biasa, tapi dia teman spesial di hatiku. Aku menyukainya. Rio adalah asistent general manager termuda di kantor kami, sebetulnya aku sudah mengenalnya sejak SMA, dia ketua Osis di sekolahku. Saat aku masuk kelas 1 dia sudah kelas 3. Kami hanya beda 2 tahun. Tapi dahulu memang aku tidak terlalu terkenal, makanya ketika kami baru dekat dan aku menceritakan bahwa aku adalah adik kelasnya dia tampak begitu terkejut.
Makan siang saat itu aku terasa sangat bahagia, karena Rio SMS mengajakku makan siang bersama. Padahal biasanya dia selalu makan siang bersama manager-manager,atau rekan-rekan cowok yang lainnya. Aku menanti Rio di pojok kantin dekat dengan air terjun mini, ini adalah tempat favoriteku. Mengingatkanku pada air terjun yang ada di jeju island. Hitung-hitung aku afirmasi dari sekarang, kalo sudah ada uangnya aku ingin sekali pergi kesana. >,<
Aku memesan pecel Ayam goreng dan orange juice, saat Rio sudah berada di sampingku. Aku mempersilakkan duduk, astaga dia begitu wangi membuatku harus menelan ludah. Dia begitu tampan dengan kemeja berwarna abu-abu bergaris horizontal.
"Wih kamu udah mesen duluan nih?" Katanya seraya melihat pelayan membawa makanan yg sudah ku pesan.
"Bapak kelaman sih, jadi saya pesen duluan deh" jawabku sambil menyeringai. Untuk menjaga profesionalitas aku tetap memanggilnya bapak, di dalam atau diluar kantor.
"Mau pesen apa pak? Kali ini saya yang traktir haha"
"Kamu mau traktir saya?" Tanyanya tak yakin. Aku mengangguk.
"Pesen aja pak nanti saya bayar, ga usah sungkan sungkan."
"Ga salah kamu traktir saya?"
"Loh?! Kenapa? Bos traktir bawahannya itu sudah biasa pak.. Sekarang gantian bawahan traktir Bosnya. Tapi ya harap maklum makannya tidak semahal yang di restorant berbintang. Hehe" Rio terbahak mendengar jawabanku.
"Kamu ituu bisa aja.. Yaudah saya pesan yang sama seperti kamu" lalu kami memanggil pelayan. Setelah makanan Rio datang, tak lama dia membawa piringnya menuju counter makanan, ternyata dia meminta nambah sambal ulek. Saat Rio masih menunggu sambalnya jadi, seseorang tiba-tiba menepuk pundakku, dan langsung duduk di sampingku.
Ternyata Eri, asistant manager di bagian HRD. Dia sudah  mendekatiku 3 bulan dan dia selalu SMS, telpon, bahkan dia mengajakku pulang bersama.
"Haii" sapanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.
"Sendirian aja nih.."
"Ah ngga.." Jawabku sedikit malu saat dia melihat kedalam bola mataku, membuatku harus menundukkan pandanganku.
"Iya sekarang ga sendiri, kan ada aku.." Jawabnya sambil tersenyum menggoda.
"Eh makasih ya mba" saat pelayan menaruh satu gelas jus mangga dihadapan Eri.
“Kamu tau aja aku suka jus mangga" aku terkejut saat Eri langsung menyambar gelas dan menyedot jus mangga yg ada di dalamnya. Bukannya itu untuk Rio? Pikirku. Sangking takjubnya aku bergeming melihatnya minum.
Tak lama Eri menghabiskan 1/4 jus mangga yang sebetulnya bukan untuk dia. Rio datang dari arah belakangnya.
"Eri?" Seru rio, dan benar saja Eri begitu terkejut melihat atasannya sudah berdiri di belakannya. Kulihat Rio memperhatikan gelas yang berisi jus yang dia pesan tidak penuh.
"Eh, Pak Rio.. Makan disini pak?" Eri setengah berdiri menyapa Rio, saat Rio sudah duduk di hadapanku.
"Iya, kebetulan makan sama jane. Eh, ini kamu yang minum jane?" Tanya Rio, membuat Eri tersedak. Aku ingin tertawa saat itu, melihat ekspresinya Eri yang tahu barusan dia telah meminum minuman untuk bosnya.
"Eh, ini punya bapak? Maaf pak, saya minum tadi.. Saya pikir jane pesan untuk saya.." Jawab Eri dengan rasa bersalah.
"Oalaaahh.. Yaudah gpp.. Abisin aja ri" Rio tertawa kecil mendengar penjelasan Eri.
Dari sinilah kami bertiga mulai dekat, Eri mulai sering mengajakku pulang bersama. Begitu juga dengan Rio. Membuatku bimbang, dengan laki-laki yang masuk kehidupanku saat itu. Sebetulnya hatiku hanya menyukai Rio, dari rasa suka yang terpendam inilah aku mulai memotret Rio yang tersenyum secara diam-diam. Karena dari awal  melihat senyumnyalah aku menyukainnya. Foto-foto Rio kucetak dan kusimpan rapi dalam sebuah kotak yang kusebut 'kotak harta'ku. Karena Jika dia tanya berapa banyak harta ku? itu adalah berapa banyak dia tersenyum padaku.

Saat itu sabtu sore yang cerah menampakkan langit biru bercampur jingga, Rio mendatangi kediamanku di cinere. Aku sedang asik bermain dengan kucing peliharaanku bernama Otte saat itu. Ternyata dia mengajak ku untuk makan bersama.
"Bapak ngajak saya dinner?" Tanyaku sambil menyembunyikan wajah bahagia yang teramat sangat.
"Haha, bisa dibilang begitu. Di cafe teman saya, seminggu yang lalu saya diundang, cafenya deket sama rumahmu. Makanya saya samperin kamu biar sekalian bareng." Jawab rio yang begitu terlihat casual dengan polo shirt hijau muda, sangat cocok dengan background tamanku.
"Yaudah saya ganti baju dulu ya pak, duduk dulu pak"
Saat aku keluar dari dalam rumah, mengenakan maxi dress berwarna coklat dengan belt melingkar di pinggangku. kulihat mama sedang asik mengobrol dengan Rio di teras depan. Entah apa yang mereka bicarakan Rio sampai terpingkal-pingkal tertawa.
"Lagi ngomongin apa sih?" Jawabku, dan sontak mereka berhenti tertawa.
"Mau tau aja kamu" jawabnya tersenyum, senyumnya pasti menyimpan sesuatu. Nanti akan ku introgasi. Kami langsung berangkat ke cafe, dan menikmati dinner kami.
"Tadi mama saya ngomong apa sama pak Rio?" Kulihat Rio menghentikan makannya dan mengambil tissu di hadapan kami.
"Ga ngomong apa-apa..."
"Bohong, tadi bapak ketawa geli gitu. Pasti ngomongin saya."
"Eh kamu jangan manggil saya bapak dong. Berasa tua, panggil Rio aja. Ya kalo dikantor tetep pake bapak. Cuma kalo udah diluar panggil nama aja."
"Iya iya.. Tapi bapak belom..eh" aku memperbaiki.
"Rio, kamu belum jawab pertanyaan saya" terasa aneh di lidahku saat pertama kali aku memanggilnya Rio.
"Haha, saya cuma memperkenalkan nama saya doang kok"
"Dusta, saya ga percaya. Apa lagi yang di omongin?"
"Hahaha ibu kamu cerita sama saya, katanya kamu bilang saya ganteng"
Cetaarrrr! Ya ampun bisa-bisa nya mama cerita seperti itu di depan Rio, aku merasakan pipiku memerah.
"Katanya waktu kamu pertama kali masuk kantor kamu sempet kesandung ga liat ada kabel pas saya lagi lewat, kata ibumu, kamu kesandung gara-gara terpikat sama saya. Saya inget-inget, ternyata kamu toh yang waktu itu jatuh". Habis sudah! Aku malu setengah mati mengingat kejadian itu, ditambah mama menceritakannya pada rio.
"Kamu jangan geer, itu saya bener-bener pure terjatuh karena ga liat ada kabel" jawabku berbohong.
"Haha, ya ampun ibu kamu tuh asik juga ya di ajak ngobrol. Lain kali saya mampir lagi deh kerumah kamu"
"Jangan deh! Nanti ngomongin saya lagi"
"Loh sekarang kamu yang ke geeran, lagian ga ada topik aja sampe harus ngomongin kamu terus" kalau saja saat itu aku berdandan lebih lama 15 menit, mungkin mama sudah membocorkan pada Rio bahwa aku menyukainya.
Malam itu mama sudah menguras setengah rasa malu ku di hadapan Rio. Sepanjang perjalanan pulang rio masih cekikikan mengingat percakapannya dengan mama dan sepanjang itu juga mukaku terus memerah.
Hubungan aku dan Rio makin dekat begitupun aku dengan Eri. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan perasaan Rio terhadapku. Aku tahu dia atasanku, rasanya kurang pantas jika kami  menjalani hubungan, karna aku hanyalah seorang Receptionist di kantorku yang lama..
Sudah 3 bulan dari masa-masa kedekatanku dengan Rio,  Walaupun dia sudah tau aku menyatakan secara tidak langsung bahwa dia tampan, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa dia menyukaiku. Rasa sukaku ini terus kupendam sampai akhirnya Eri yang juga dekat padaku menyatakan bahwa dia ingin menikahiku. Aku sempat bimbang saat ingin menerimanya. Butuh waktu seminggu sampai aku bisa menjawab pertanyaan Eri. Aku menerimanya. Sejak itu hari-hariku lebih banyak kuhabiskan bersama Eri. Hubungan kami saat itu sempat di kacaukan oleh Olivia, manager sales and promotion. Ternyata dia juga menyukai Eri, kami sempat berdebat di luar kantor. Untunglah saat itu ada sahabatku sekaligus rekan partnerku di kantor, Vita,  yang membantuku.
Rio mulai sibuk dengan tugas keluar negerinya. Hubunganku dengan Eri hanya bertahan 6 bulan. Sampai akhirnya aku tahu bahwa dia telah selingkuh dengan anak buah olivia. Tak bertahan lama sejak putusnya hubungan ku dengan Eri. Aku keluar dari kantor tersebut, dan mendapat pekerjaan baru di Mitra Residence. Butuh waktu 9 bulan untuk benar-benar bisa menerima berakhirnya hubunganku dengan Eri, sampai akhirnya aku bisa lega melupakannya bahkan aku sudah tak punya hati untuk menerima dia dalam segala indra di dalam tubuhku ini.
Lalu kubiarkan perasaan sukaku pada Rio tertinggal disana, entah akan menjadi apa. Jika suatu hari nanti kami bertemu kembali aku akan memasukkan daftar hobbi baruku. Yaitu, terus membuatnya bahagia.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kepalaku berputar hebat saat aku mencoba membuka mataku. Ada cahaya putih di hadapanku, berat rasanya membangunkan tubuh ini, pergelangan tanganku terasa sakit dan mengganjal. Aku masih menerka benda apa yang ada di tanganku ini.
Infusan?
Sepertinya aku dirumah sakit, karena tempat kos tidak punya perlengkapan medis seperti ini. Aku menoleh ke kiri dan wajahku juga terasa mengganjal karena ada selang udara di wajahku.
“jane..” suara vita yang parau masuk ke telingaku. Aku hanya bisa melihatnya, sedikit mengingat kenapa bisa aku ada disini. aku mengingatnya, saat aku jatuh dan nafasku habis. Tapi sebelum itu aku bertemu dengan Rio yang mengatakan bahwa dia akan bertunangan. Mungkin sekarang aku harus belajar bahwa Rio memang bukan untukku.
“lo udah ga sesek lagi kan jane?” aku menggeleng, masih begitu lemah untuk berbicara.
“sebentar lagi orang tua lo datang” saat aku mendengar vita, saat itu pula diriku terasa lelah padahal aku tidak melakukan apapun. Aku ingin tidur, mataku yang begitu berat terpaksa aku pejamkan kembali.

Siang ini aku sudah selesai fisio terapi, aku yang ditemani mama berjalan dengan kursi roda menuju kamar. Sudah dua hari semenjak aku dirawat, rio menelponku terus. Entah apa yang ingin dikatakannya, sepertinya aku belum siap untuk berbicara dengannya. Kemarin adalah hari dimana rio dan oliv tunangan, aku tak bisa membayangkan betapa bahagiannya mereka.
Mama mendorongku memasukki kamar dan di bantu suster untuk naik ke tempat tidurku kembali.
"Mau pakai oksigen lagi?" Tanya suster kepadaku
"Boleh sus" suster itu memakaikan selang oksigen kehidungku kembali. Lalu ketika ku berbaring dia mengecek tensi darahku. Ternyata tensiku masih rendah.
Hari ini sudah mulai sore, aku melihat jam dinding menunggu kedatangan vita, karena dia berjanji akan datang sore ini. Tapi tak lama kemudian dia datang membuka pintu.
"Janeeee.." Vita menghambur masuk dan menyalami mamaku.
"Buat tante nih" kulihat sepertinya dia memeberi sesuatu pada mama dan ternyata kue brownis.
"Buat gue mana?"
"Lo lagi sakit, kapan-kapan aja"
"Ish" baru setengah jam vita disini mama pamit untuk pergi ke rumah saudaraku di dekat sini, tapi setelah itu dia berjanji akan kembali lagi. Aku mengiyakannya, beberapa menit kemudian mama pergi meninggalkan kami.
Aku sempat bercerita dengan vita sebab kenapa aku bisa kembali tumbang seperti ini. Dia sama terkejutnya denganku,mengetahui bahwa rio sudah bertunangan dengan oliv.
"Lo gimana sih jane? Lo harusny berjuang dong buat dapetin rio. Bukannya malah lo kasih saran ke dia gimana cara nembak oliv. Jadi kayak gini kan?! Lo nya juga yang sakit sekarang."
"Ya mau gimana lagi, masa gue tiba-tiba ngomong ke dia kalo gue udah lama suka dia?"
"Emang harusnya kayak gitu!"
"Gue ga mau menggebu-gebu ta, gue cuma mau dia sadar sendiri kalo dari dulu gue udah suka sama dia."
"Trus kalo udah begini kejadiannya? Si rio udah jadi tunangan oliv. Lo mau gimana?"
"Mungkin bener kali kata lo, gue harus move on dari rio. Sebentar lagi dia bakal nikah sama oliv. Mungkin gue harus coba buat menghapus memori tentang dia"
"Eeehhh...lo ga boleh move on sebelum gue move on dari yusuf!"
"Dih, apaan sih?!"
"Iya! Nanti kalo lo udah move on, malah pindah ke yusuf!"
"Haha, lo gila ya?! Itu gue cuma bercanda. Lo itu emang polos cenderung ye."
"Biarin, daripada yusuf pindah ke elo. Gue rela deh bantu lo dapetin rio.."
"Ngaco lo, kan gue udah bilang gue mau hapus memori dia"
"Cih, 100% gue jamin lo ga bakal bisa!"
"Sok tau!"
"Lah iya! Secara dulu lo pernah bilang gitu ke gue. Tapi nyatanya ga bisa, karena lo masih nyimpen foto-fotonya dia. Ya kan?!" Tiba-tiba aku teringat foto-foto Rio yang ku simpan di kotak hartaku. Tahun lalu sudah kuhitung berapa foto yang aku jadikan hartaku yang paling berharga itu, sebanyak 108 foto. Tapi aku sudah berhenti memfoto dirinya semenjak aku tidak satu kantor lagi dengannya.
"Ta, lo bisa bantu gue?"
"Apaan?"
"Emm... Tolong bakar kotak yang ada foto-foto rio."
"Hah?! Gila lo!"
"Lo tau keranjang rotan yang di sebelah kasur kan? Kotaknya gue taruh situ. Nanti atau besok tolong lo bakar ya? Pleasee"
"Janee, itu kan harta lo"
"Dulu ta, sekarang kan sudah beda. Gue ga bisa berharap banyak sama rio lagi. Please ya, tolongin gue.." Aku melihat vita yang masih berkrenyit memandangku. Cukup lama sampai dia berkata,
"Ok" 
Ini hari ketiga aku dirawat, tadi siang beberapa rekan kantorku datang untuk menjenguk ku. Mama ku juga sudah  ikut menjagaku  selama tiga hari ini, tapi hari ini mama akan pulang dan vita akan menggantikan posisinya.
“kamu jaga diri baik-baik ya. Mama pulang dulu, besok kan kamu sudah boleh pulang. Minta tolong vita buat menemin kamu balik ke kosan.”
“iya mah, salam buat ayah” aku menyalimi mama, dan melihatnya pergi meninggalkanku sendiri. Beberapa detik setelah mama pergi, handphone ku bergetar. Saat ku lihat panggilan dari Rio, jantungku kembali berdetak kuat. Aku bimbang untuk mengangkatnya, jadi kuputuskan untuk membiarkannya saja seperti hari kemarin. Aku mendengar pintu terbuka, dan ternyata itu vita. Dia membawakan ku donat rasa coklat. Kami makan bersama, sesaat kami menghentikan makan kami saat handphone ku kembali berdering, tapi kali ini vita juga melihat siapa yang menelponku. Aku masih membiarkannya, dan melanjutkan makanku.
"Jadi udah move on nih"
"Sedang mencoba, lebih tepatnya. Kotaknya udah lo bakar belom?"
"Hm? Udah"
"Thanks ya" vita hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.


Sabtu, 19 Januari 2013

30th Syndrome (end)



February 30th-2
     Aku menghabiskan waktuku dengan airmata. Aku harus mulai melangkah, tapi kenangan akan wajahmu membuatku takut. Aku takut kepada setiap desir angin yang terdengar seperti suaramu. Aku takut kepada setiap bias cahaya yang membentuk siluet tubuhmu. Aku takut pada tawa renyah orang-orang di sekitarku yang menyerupai tawamu, bahkan aku menyadari bahwa aku takut pada pikiranku sendir. Aku takut pada sang malam, pada sang pagi dimana merupakan waktu yang riskan untuk mengingatmu.
     24 jam mulai menjadi sebuah masalah bagiku, menjadi waktu yang panjang dimana kamu menyiksaku dengan kenangan. Ponsel yang berderit-derit itu pun tak sanggup ku tengok, karna ketika melihatnya, ingatan bahwa ponsel itu benda ‘kita’ menyeruak menembus dinding-dinding pikiranku dan menyayatnya.
March 30th-2
     Aku mulai bisa membatasi pikiranku tentangmu dengan menjauhi hal-hal yang berhubungan dengan kita. Tapi jujur saja aku lelah, karna hanya untuk pergi ke kantor aku harus terus menekan jantungku demi mengurangi debarannya. Suatu kebetulan mungkin, kantorku kini berada di belakang jalan kantormu dulu. Yang dulu selalu ku lalui bersamamu untuk mengantar dan menjemputmu setiap hari. Terbayang saat ini seakan di sebelahku ada ‘kita’ yang sedang berangkulan di tengah teriknya siang atau dinginnya malam, membuatku merind… ah. Kata apa itu? Aku sudah membuangnya dari pikiranku.
April 30th-2
     Namanya Reza dan ia sedang menemaniku menghabiskan sebuah hari yang aku yakin nantinya akan membunuhku. Aku tak tau mengapa tanggal ini malah membawa kepedihan bagiku, padahal aku sudah menetapkan akan melupakanmu dan berbahagia dengan hidupku. Apakah ini teguran dari ikrarku untuk menunggumu? Tapi aku juga ingin bahagia, ingin di sayangi, ingin di perhatikan!
     Tunggu! Aku rasa ini memang harga yang harus ku bayar dalam menantimu. Aku memiliki hal-hal itu ketika bersamamu tapi aku menyia-nyiakannya, jadi sekarang aku akan berjuang untuk hal itu kembali. Tenanglah Ju, aku sudah kembali pada ikrarku. Aku akan menantimu sampai waktu yang memungkinkan untuk memintamu kembali. Hei! Ada perasaan lega di hatiku.
May 30th-2
     Aku berderai air mata sambil menggenggam ponselku erat-erat. Maafkan aku Ju, tiba-tiba saja aku harus mengingkari janjiku menunggu dalam diam dan memintamu kembali sekarang. Aku hanya… hanya tidak mampu membendung rinduku padamu. Maaf, kau tak perlu menembakiku dengan kata-kata yang merendahkanku seperti itu. Aku tau aku hina, sampai-sampai memintamu dengan seenaknya untuk kembali, tapi… maaf Ju, maaf… aku tak punya alasan, aku hanya sekedar merindukanmu di tanggal ini.
June 30th-2
     Apa kabarmu disana Ju? Akhirnya aku mampu kembali dalam penantian diamku untukmu. Walaupun kini hatiku masih perih mengingat hari jadi kita, aku sudah bisa tersenyum menapaki jalanku. Baik-baiklah disana, aku juga akan baik-baik menjagamu di hatiku. Selamat tanggal 30, Ju!
July 30th-2
      Hari ini aku kembali men-cover jalan-jalan yang sering kita lalui dulu sambil menghapus ‘kita’ di setiap poinnya. Aku memang menggunakan cara itu untuk mengurasi pedih yang berdentum setiap melewati sebuah jalan yang dulu kita lalui. Aku menemukan cara itu tanpa sengaja dan kini ku lakukan setiap waktu senggangku, sudah beberapa jalan ku ‘hapus’ dan ku perbaharui dengan ingatanku, tapi tengan sayang, kamu tetap aman di hatiku.
August 30th-2
     Hari ini aku pergi ke tempat yang kita sebut langit. Ini tempat tersulit untuk ku hapus, sepanjang perjalanan tadi saja aku berulangkali membanting setir untuk menghindarinya. Akhirnya aku sampai disini, di tempat yang sama dimana kita selalu menghabiskan waktu melihat matahari dan bintang-bintang. Masih sama semuanya di ‘langit’ jarak pandang yang sama, keramaian yang sama bahkan beberapa orang yang sama yang dulu pernah kita temui disini. Yaah, sayangnya tempat ini bukan tempat pribadi kita sayang, jadinya harus menjadi tempat favorit juga bagi yang lain.
     Aku gagal menghapus tempat ini. aku malah berderai air mata sambil membayangkanmu ada di sampingku saat ini. haha, maaf aku bodoh Ju.
September 30th-2
     4 hari lagi ulangtahunku. aku tidak tau bagaimana harus menjabarkan betapa hari ini menyakitkan buatku. Setelah hampir setahun tanpamu, tiba-tiba kau datang di tengah malam memenuhi permintaanku yang 15 hari lalu kelaparan di tempat pembuanganku. Kau datang dengan wajah yang jauh berbeda dari ingatanku, aku bahkan spontan defensive terhadapmu. Tapi aku akui aku rindu, jadi ketika kau memintaku menyerahkan ciumanku, aku menurutimu. Sungguh bodoh, padahal aku tau, hanya aku yang akan hancur setelah itu. Dan hari inilah buktinya, kau berhasil menumbangkan visi, raga dan pikiranku. Hebat Ju!
October 30th-2
     Aku beridik berulang kali melihatmu di hadapanku. Aku punya respon spontan yang aneh ketika melihatmu sekarang. Ada rasa sesal, benci dan entahlah, seperti tidak nyaman melihatmu di sekelilingku. Aku bahkan bergidik ketika melihat seseorang laki-laki memakai kacamata berada di dekatku, rasanya seperti rindu namun takut sekaligus kesal.
     Aku heran, ketika aku memintamu padaNYA untuk selalu ada, kau menghilang, tapi ketika ku harap kau menghilang, kau beredar! Aneh Ju, tapi bukan berarti perasaanku mulai surut. Kenangan tentangmu sebelum hari ke 15 di September itu mengamankan semua rasaku untukmu. Ya, hatiku masih hangat…
November 30th-2
     WOW! Sudah setahun sejak kepergianmu, aku ingat hari ini di tahun lalu betapa aku hancur. Dan hari ini aku bisa mengenangmu dengan leluasa. Aku berterimakasih pada teman karib ku atas sarannya, aku bisa menunggumu sampai hari itu datang. Aku yakin aku sanggup!
December 30th-2
     Sebuah mimpi menghancurkan penantianku. Setelah ini, apa yang harus aku percaya untuk tetap berpijak di kedua kakiku? Mengapa di ujung akhir tahun perjuanganku harus datang mimpi itu? Apa aku harus berhenti? Baiklah, aku akan berhenti. Mungkin benar, bahwa kau sudah tidak lagi bisa bersamaku. Selamat tinggal Ju
“Taring, terima kasih” Aku mendengar suaramu menggema. Itu suaramu dalam pikiranku ya? Berterimakasih untuk pelepasanku atas penantianku? Baiklah, sama-sama.
“Taring, aku disini” Di sini itu dimana Ju? Aku kan tidak bisa membalikkan bola mataku untuk melihat kedalam pikiranku.
“Taring menolehlah, aku disini”
---------------------------------------------------------oo------------------------------------------------------------------------
     Siapa yang tidak percaya pada sebuah penantian hanyalah orang-orang yang tak percaya pada kekuatan hatinya, aku merasakannya. Ketika sebuah mimpi menghancurkan penantianku, mimpi itu juga yang menyelesaikannya dengan indah. Akhirnya kamu memintaku kembali, berada di sisimu dan menetap disini selamanya. Kau bilang bahwa aku hanya di uji saat menunggumu, tapi kau juga di uji dengan meninggalkanku, karna di tempatmu kau berkerja keras untuk melayakkan diri dan membangun kembali ‘kita’. Tanpaku, kamu bisa lebih fokus katamu, sehingga hari ini terjadi, hari dimana bukan lagi tanggal 30 yang akan membahagiakan, tetapi setiap harinya.
     Kau bahkan mengakui bahwa berat menjaga hati ketika tak ada lagi semuah nama di atas hubungan yang kau sendiri putuskan talinya, begitu juga bagiku. Tapi kini langit abu telah berganti menjadi pelangi, karena kau telah pulang. Kau telah kembali menempati singgasanamu di hati ini, merengkuhnya dengan segenap perasaan dan merantainya bersama hatimu. Terimakasih Ju, untuk setidap detik yang berharga, untuk setiap momen yang bagai hujan bunga di dalam hatiku. Terimakasih untuk setiap… setiap tanggal 30 yang selalu berarti untukku.